SEJAK pertama kali digelar pada tahun 1930, Piala Dunia FIFA melahirkan banyak bintang di masanya. Berikut ini adalah sembilan diantaranya menurut versi Bintang.
Pele atau bernama lengkap Edison Arantes do Nascimento lahir 23 Oktober 1940. Pele membawa Brasil 3 kali menjadi juara dunia. Pada 1958 di Swedia, 1962 di Chili, dan 1970 di Meksiko. Bukan itu saja yang istimewa dari Pele.
Bakat Pele memainkan si kulit bundar sudah terlihat sejak berusia 11 tahun. Empat tahun kemudian Pele digaet klub Santos. Dalam pertandingan perdananya Pele menyumbang 1 gol. Publik Brasil memiliki harapan besar sepak bola Brasil akan meraih prestasi. Tahun 1958 Pele bergabung dengan timnas Brasil di Piala Dunia di Swedia.
Pele
Meski Brasil keluar sebagai juara, Pele tidak sepenuhnya beraksi karena cedera serius saat bertanding melawan Meksiko. Cedera yang sama juga Pele alami saat Piala Dunia 1966. Saat itu terlihat sekali kekuatan Brasil jauh menurun akibat ketidakhadiran Pele. Baru di Piala Dunia 1970 obsesi Pele memboyong tropi Jules Rimet menjadi kenyataan.
Sepanjang kariernya, Pele 92 kali memperkuat Brasil dan mengoleksi 77 gol. Secara keseluruhan Pele telah mencetak 1281 gol dalam 1363 pertandingan. Ada yang istimewa dari gol-gol Pele. Untuk mengenang gol ke-1000 Pele yang dicetak di Stadion Maracana, publik Brasil merayakannya sebagai 'Pele Day' setiap 19 November.
Diego Armando Maradona memulai debutnya tahun 1976 bersama klub Argentinos Juniors. Pada 1981 Maradona hijrah ke klub Boca Juniors dan setahun kemudian merumput untuk FC Barcelona. Namun, prestasi bergengsi baru Maradona raih ketika membela Napoli dengan meraih scudetto Seri A 1986/87 dan 1989/1990 serta menjuarai Piala Italia 1987.
Diego Armando Maradona
Selain gol indah, pada Piala Dunia tersebut Maradona juga membuat gol kontroversial, gol yang tercipta dengan bantuan tangan. Gol itu Maradona juluki “gol tangan Tuhan”.
Di Piala Dunia berikutnya, prestasi Maradona tidak sebaik Piala Dunia 1986. Argentina hanya menjadi runner up setelah kalah dari Jerman Barat, 1-0. Setelah itu karier Maradona cenderung menurun lantaran kasus doping. Di luar itu, baik Maradona maupun Pele dianugerahi FIFA sebagai 'Pemain Terbaik Abad Ini' 2001 silam.
Selain Pele dan Maradona, dunia sepak bola masih memeliki sederet pemain hebat. Sebut saja Franz Anton Beckenbauer. Libero asal Jerman yang dijuluki “Sang Kaisar” ini memiliki gaya kepemimpinan yang handal. Terbukti saat menjadi kapten Jerman Barat di Piala Dunia 1974, Beckenbauer membawa Jerman Barat sebagai juara.
Franz Beckenbauer
Bintang lainnya hadir bersama munculnya total football, Belanda. Siapa lagi kalau bukan total football selain Johan Hendrikus Cruyff. Piala Dunia 1970, Belanda masih dianggap tim lemah yang tidak diperhitungkan oleh negara lain.
Namun, kehadiran Cruyff di Piala Dunia 1974 mengubah mata dunia. Gaya sepakbola menyerang dan bertahan secara serentak dinilai sebagai sebuah strategi yang efektif. Publik Belanda menyebutkan strategi itu kurang berhasil jika tidak ada Cruyff yang menjadi kapten saat itu.
Teknik tinggi Cruyff dan pergerakannya yang dinamis membawa Belanda menjadi runner up setelah dikalahkan Jerman Barat. Sayang, di Piala Dunia berikutnya, 1970 Cruyff absen karena
Johan Cruyff
Playmaker lainnya yang tidak kalah handal adalah Michel Platini, pemain sepak bola berkebangsaan Perancis yang meraih gelar pemain terbaik Eropa 3 kali. (1983, 1984, 1985).
Platini memulai karier internasionalnya dengan bergabung dengan timnas Perancis U-23 tahun 1973. Kontribusinya saat melawan Rumania di kualifikasi olimpiade membuatnya dipanggil bermain untuk timnas senior.
Michel Platini
Gagal di tahun 1978, Perancis kembali tahun 1982, kali itu Platini dipercaya menjadi kapten dan membawa Perancis ke semi final. Namun, lagi-lagi Platini dkk harus pulang dengan tangan hampa. Di semifinal, Perancis bertekuk lutut setelah adu pinalti dengan Jerman Barat.
Platini mencetak 41 gol dalam 72 pertandingan selama membela Perancis. Sebagai pemain tengah rekor itu merupakan prestasi luar biasa.
Tahun 1982 Timnas Italia melahirkan seorang pemain besar, Paolo Rossi. Padahal saat
Paolo Rossi
Usai melucuti Polandia 2-0, Rossi membawa Italia ke final untuk menghadapi Jerman Barat. Di partai final, gol pertama Rossi membuat moral pemain Italia meningkat dan melibas Jerman Barat 3-1. Italia keluar sebagai juara. Tidak hanya itu, Rossi juga sukses menjadi pencetak gol terbanyak. Rossi yang tadinya dikecam kemudian dielu-elukan.
Romario
Tidak hanya itu, Romario juga terpilih menjadi pemain terbaik dunia dan memenangkan Piala Dunia Golden Ball serta menjadi salah satu dari 125 pemain paling hebat dalam perayaan hari jadi FIFA yang ke-100.
Namun, prestasi Romario belum mampu menyamai Pele, Romario hanya mencetak 55 gol dari 70 pertandingan internasionalnya dan menjadikannya topskor tertinggi ke-2 dalam sejarah sepakbola Brasil.
Mengakhiri tarian Romario, muncul Zinedine Zidane. Zidane dikenal sebagai salah satu pengatur serangan terbaik dalam sejarah sepak bola. Kehebatan tendangan bebas Zidane juga tidak kalah dari seniornya, Platini. Prestasi terbaik Zidane diraihnya saat membawa Perancis menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Karena itu Zidane meraih penghargaan Ballon d'Or dan Pemain Terbaik FIFA tahun 2000 dan 2003.
Zinedine Zidane
The Last but not least adalah Ronaldo Luís Nazário de Lima. Ronaldo mulai meniti karier internasionalnya sejak bermain di Piala Dunia 1994 meskipun tidak mendapatkan kesempatan bermain. Pria berkepala plontos yang besar di klub Inter Milan ini baru mendapat kesempatan bermain di Piala Dunia 1998.
Ronaldo
Piala Dunia tahun 2006, penampilan Ronaldo dinilai buruk. Namun, di Piala Dunia tersebut Ronaldo membuat sejarah baru dengan menjadi pencetak gol terbanyak di Piala Dunia sepanjang sejarah dengan 15 gol menggeser Gerd Müller dengan 14 gol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar